Ceramah Terakhir Datuk Tenas Effendy


Tenas Effendy adalah nama pena dari Tengku Nasyaruddin Said Effendy Assegaf. Beliau lebih dikenal sebagai budayawan Melayu lintas negara, dan selalu diundang berceramah dalam simposium, lokakarya, diskusi, maupun seminar, yang berhubungan dengan Melayu, seperti di Malaysia, Brunei, Singapura, Thailand Selatan, Filipina Selatan, sampai Madagaskar. 

Datuk Tenas lahir di Kuala Panduk, Pelalawan (Riau) 9 November 1936; dan menutup usia di Pekanbaru (Riau) 28 Februari 2015 pada umur 78 tahun. Ada banyak pengalaman berharga selama ikut serta dengan beliau, terutama di penghujung hayat. Berikut ini adalah kisah di sebalaik layar tentang ceramah beliau yang terakhir sebelum berpulang.


Sabtu, 24 Januari 2015

Pagi hari pukul 08.30 WIB; aku dikejutkan oleh jumlah panggilan tak terjawab dari bang Julir. Kalau sudah banyak panggilan, sudah jelas ini ada perkara penting dari pak Tenas. Kemudian aku cek SMS, dan benarlah dugaanku; bang Julir mengirim sms:

Ceramah Terakhir Datuk Tenas Effendy 1 

Kemudian aku telpon bang Julir dan menyusun rencana jam berapa tiba di rumah pak Tenas.

Tiba di sana, pak Tenas ternyata baru saja melepas selang oksigen. Kemudian menjemput aku duduk dan menyampaikan hajat beliau.

"Kita dijemput Bank Riau Kepri untuk ceramah budaya di Batam. Aku mau awak tu buatkan slide ceramah untuk aku nanti di sana", ujar beliau.

Pak Tenas memberikan bahan-bahan ceramah beliau, 2 buah dokumen hasil print kertas A4, masing-masing setebal 76 dan 22 halaman.

"Nanti awak pilih saja mana yang patut untuk tampilan slide!" perintah beliau.

Tak lama berselang, bang Ipul dan bang Rapik datang. Mereka berdua juga dipanggil pak Tenas untuk dibawa serta ke Batam. Bang Rapik tak bisa ikut, karena masih sibuk dengan laporan yang sedang disusunnya. Bang Ipul yang bisa ikut serta ke Batam, karena alasannya dimentahkan pak Tenas.

Hal ini sudah menjadi kebiasaan pak Tenas, bila diundang ceramah kemana saja, beliau akan membawa serta rombongan. Biasanya terdiri dari orang-orang yang dapat membantu beliau dalam segala hal, ringan tangan, cakap dan sigap dengan kondisi serta tanggap dengan situasi.


* * *


Senin, 26 Januari 2015


Aku sudah bersiap di atas motor menuju Balai Adat Melayu Riau, ketika tiba-tiba handphone berbunyi. Biasanya aku cuekkan saja hingga sampai tujuan. Tapi sejak Sabtu kemarin, setiap hape bunyi, langsung ditengok. Mana tahu ada info terbaru.

Ternyata memang masuk lagi SMS bang Julir:

Ceramah Terakhir Datuk Tenas Effendy 2

Aku langsung mengarah ke Balai Adat untuk sekedar meletak bawaan yang berat, kemudian langsung bergegas menuju Pasirputih, rumah pak Tenas.

Di rumah, pak Tenas duduk di sofa depan teve, dekat dengan dipan isteri beliau, Tengku Zahara. Keduanya menonton tayangan channel Makkah, al-Qur'an al-Karim. Yang membuat hati ini menangis, nafas pak Tenas terdengar begitu sesak dan selang oksigen melekat di hidung beliau.

"Ini bahan utama aku nanti," kata pak Tenas, sambil menyerahkan bundel terbaru, 38 lembar A4. "Awak tu masukkan semua yang ada disini ke dalam slide, kemudian kaitkan dengan dokumen semalam."

"Baik, Pak," jawabku, kemudian buru-buru kembali ke Balai Adat. Aku kuatir kalau berlama-lama disana akan dibawa bercakap-cakap, yang dapat mengganggu alur oksigenisasi beliau.


* * *


Selasa, 27 Januari 2015


Setiba di Hang Nadim Batam, kami sudah ditunggu bang Kamaruddin. Di mobilnya sudah standby tabung oksigen. Tak mungkin dibawa dari Pekanbaru, karena pihak maskapai tidak akan mengizinkan. Banyaklah alasannya.

Sebelum ke hotel, pak Tenas mengajak makan siang dahulu di tempat hidangan laut pilihan. Selera makan beliau tak berubah, tetap lahap menyantap hidangan walau dalam keadaan sakit. Juice buah 2 gelas juga tak dilupa; dengan sedikit es dan sedikit gula.

Setelah itu kami bergerak menuju hotel. Pak Tenas langsung istirahat di kamar. Bang Kamaruddin menyiapkan tabung oksigen, siap-siap bilamana diperlukan.

Esok paginya pak Tenas ceramah, pak Dwi (panitia dari Bank Riau Kepri Cabang Utama) menyediakan sofa di panggung untuk beliau. Mikrofon beliau pegang dengan tangan kanan. Kadang dipindah ke tangan kiri ketika beliau mengisyaratkan sesuatu dengan tangan kanan beliau. Segala bahasa isyarat ini dilakukan dengan tangan kanan. Ketika isyarat selesai, mikrofon yang di tangan kiri balik lagi ke tangan kanan.

Raut wajah dan fisik beliau tak memperlihatkan derita sakit yang diidap. Sakit tak beliau anggap sebagai beban. Hadirin berkata-kata takjub dengan kondisi beliau, "Pak Tenas masih sehat bugar, ya".

Ceramah budaya pak Tenas mengalir bak air dan hadirin pun terpuaskan, seakan meneguk air dari oase di padang tandus. Sesekali terselip gurau-senda dan penggalan kisah-kisah lucu; semuanya mencurah tanpa terdengar keluhan idap derita sakit beliau.

Selesai ceramah, dari siang hingga petang, beliau masih nampak bugar. Beliau sempat bertemu dengan dengan berbagai tokoh-tokoh yang ada di Batam, yang datang bertandang ke hotel tempat beliau menginap.

Ceramah Terakhir Datuk Tenas Effendy
Kenangan terakhir Datuk Tenas Effendy di Batam (Foto: Kamaruddin Saban) 

Namun selesai magrib, nafas pak Tenas mulai sesak dan mesti dibantu oksigen. Aku yakin, semangat beliau dari pagi hingga petang tadi sudah terkuras habis. Jujur saja, kami semua – termasuk pak Dwi (Bank Riau Kepri) – dari pagi hingga siang tadi sudah bersiap-siap dengan segala kemungkinan, ketika beliau sedang ceramah.

Bang Ipul menyarankan pak Tenas istirahat saja di kamar, karena jam 10 esok kita akan balik lagi ke Pekanbaru. "Makan malam, biar kami yang carikan di luar", kata bang Ipul.

Alhamdulillah, esoknya pak Tenas kembali bugar. Kami dibawa bang Kamaruddin Saban ke Mie Tarempa sebelum menuju bandara. "Sarapan dahulu kita kat sini," ujarnya.

Setelah sudah, kami menuju bandara dan menunggu keberangkatan. Ada waktu 1 jam lagi menunggu keberangkatan. Kami pun duduk-duduk pulak di resto bandara, sekedar meneguk kopi atau juice. Pak Tenas masih sempat merokok 2 batang.

Tiba di Pekanbaru, kami langsung pisah di bandara dengan jemputan masing-masing. Cuma bang Julir yang ikut pak Tenas, karena motornya diletak di rumah beliau.

Selang beberapa hari setelah itu, kesehatan pak Tenas semakin menurun. Selama masa ini beliau selalu mengkhawatirkan jemputan majelis Ceramah Arif Budiman ke-11 anjuran Pusat Bahasa Melayu Kementerian Pendidikan Singapura. Datuk Alazhar, ketua umum DPH LAM Riau saat itu, selalu berusaha menghilangkan rasa kuatir beliau dengan alasan kegiatan tersebut dapat ditunda.

Hingga masuk rumah sakit Santa Maria, pak Tenas masih risau dengan majelis Singapura ini. "Kalau aku tak dapat pergi, baiknya gantikan oleh yang lain. Jangan sampai kita mengecewakan orang," ujar beliau.

Pada akhirnya kesehatan Datuk Tenas kian memburuk. maka atas kesepakatan bersama, Datuk Alazhar yang diutus untuk menggantikan Datuk Tenas Effendy untuk Ceramah Arif Budiman, setelah mendapat persetujuan dari Direktur Pusat Bahasa Melayu Singapura.

* * *

Posting Komentar

0 Komentar