Sekilas Analisa Kaidah Arab Melayu

Sekilas Analisa Kaidah Arab Melayu

Pelajaran Bahasa Indonesia telah lama mengambil istilah asing untuk mengkaji struktur bahasa, karena diantar dengan tulisan latin. Kalau istilah-istilah asing ini juga dipakai untuk Pelajaran Arab Melayu, tentu saja sangat tidak mengena. Kajian latin sudah dipakem dengan Grammar, sementara tulisan Arab sudah dipakem dengan Nahwu-Sharf. Penyelarasan kaidah tulis-baca Arab Melayu belum dilakukan sepenuhnya. Kalau pun upaya tersebut pernah dilakukan, itu pun hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan dan belum dapat dijadikan jalan keluar.

Pada penulisan Arab Melayu di Riau, terdapat banyak kejanggalan. Banyak kalangan yang protes akan bentuk sebuah tulisan - berdasarkan analisa kaidah Arab Melayu mereka sendiri - namun tak tahu harus menyampaikan protesnya pada siapa. Biasanya protes muncul dari kalangan yang memandang suatu tulisan Arab Melayu yang tidak sesuai dengan penulisan kata dalam Al-Quran.

Sayangnya, entah gagap atau latah, telah banyak orang yang menobatkan diri mereka sendiri sebagai tokoh Arab Melayu; sehingga dengan begitu beraninya masing-masing dari mereka berusaha menelurkan pemikiran untuk penyelarasan ejaan Arab Melayu. Ragam masalah dan jalan keluar diungkapkan dengan lengkap demi mencapai tujuan yang dimaksudkan. Namun ada satu letak kejanggalan mendasar yang pada akhirnya berakibat sangat fatal dalam pengembangannya. Berdasarkan analisa kaidah Arab Melayu berbasis bahasa Arab (al-Qur'an), bila dibandingkan dengan analisa kaidah Arab Melayu ciptaan mereka yang tidak merujuk pada bahasa arab, sungguh terjadi persimpangan yang begitu jauh.

Kalau hendak melakukan analisa kaidah Arab Melayu, seharusnya merujuk pada tata bahasa Arab, sebab dari sanalah seni penulisan ini berasal. Seharusnya kajian analisa kaidah Arab Melayu harus berbasis pada Nahwu dan Sharf, bukannya Grammar. Tegasnya, Arab Melayu tidak mengenal istilah konsonan dan vocal, meskipun untuk kebutuhan transliterasi semata. Penyelarasan analisa kaidah Arab Melayu belum dilakukan sepenuhnya. Kalau pun ada yang mengupayakannya, itu pun bersifat temporer dan belum dapat dijadikan jalan keluar. 

Pada 1940-an, Za’ba alias Zainal Abidin bin Ahmad (1895-1973), menyusun kaidah penulisan Jawi (Arab Melayu), untuk kebutuhan tulis-baca di semua madrasah di Malaysia. Kitab kaidah ini berpedoman pada tata bahasa Arab, dikarenakan huruf Jawi (Arab Melayu) berasal-usul dari huruf Arab yang sudah patut harus dikaji menurut kajian tata bahasa Arab. Kemudian pada tahun 1986, Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP) Malaysia merampungkan penyusunan Ejaan Jawi Yang Disempurnakan (EJYD). Ciri-cirinya adalah:
  1. Mengklaim bahwa landasan yang digunakan ialah Jawi Za’ba (1941-1949). Proses penyempurnaan terhadap Jawi Za’ba itu dilakukan dengan lima kegiatan, yaitu; mengekalkan yang sudah kemas, melengkapkan yang kurang, mengadakan yang tiada, menjelaskan yang kabur, dan  mengemaskan yang longgar.
  2. Menyatakan bahwa konvensyen Tulisan Jawi (1984) itu “bukan sistem ejaan Jawi yang benar dan bahkan sama sekali menyimpang dari sistem ejaan yang disusun Za’ba”.
  3. Menyimpulkan bahwa EJYD lebih sempurna dari Jawi Za’ba, berupa “pembaikan” pada tata cara penulisan dan “tambahan” bentuk/lambang huruf “V” yang disifatkan sebagai penyempurna sistem ejaan lama.

Hasil EJYD itu pun merambah ke beberapa rantau Melayu, tidak terkecuali di Riau. Berkat kreatifitas dan pengetahuan seadanya, beberapa orang di Riau pun mulai membuat kreasi kaidah sendiri berbasis EJYD. Lebih hebat lagi, Pemerintah Provinsi Riau kemudian membentuk tim penetapan kaidah pada tahun 1995, kemudian dilanjutkan pada tahun 2010 melalui Biro Kesra Sekdaprov Riau. Hasilnya sungguh mengejutkan, bahwa kaidah ala Riau itu akhirnya rampung, tapi hanya dapat dibaca oleh orang Riau saja, dan itupun hanya bagi tim penyusunnya saja.

Lalu bagaimana di daerah selain Riau? Ternyata ihwal yang sama juga terjadi. Munculnya inovasi kaidah baru yang mengakibatkan kesalahan pada cara baca kitab-kitab lama, termasuk keliru dalam menentukan peran dan fungsi dari suatu huruf.

Namun sebenarnya apa-apa yang dilakukan untuk 'penetapan kaidah' itu masih sangat jauh dari harapan, bahkan sangat menyimpang dari ketentuan awal para pandita aksara ini pada masa dahulu. Kaidah-kaidah ini memang disusun oleh para ahli bahasa Melayu, namun sama sekali tidak akrab dengan sifat-sifat huruf Arab dan tata bahasa Arab. Akibatnya, kaidah-kaidah ini dikaji dengan teori dan pakem-pakem Grammar; yang tentu saja sangat bertolak belakang dengan sifat huruf Arab; yang dibahas berdasarkan pada ilmu Nahwu-Sarf.

Beberapa masalah yang ditimbulkan 'Pembakuan Kaidah' ini, antara lain:


1. Kaf dan Geh (ك / ڬ)

Penetapan kaidah Arab Melayu pada abad ke-19 Masehi oleh Raja Ali Haji, dilakukan pada masa yang sama dengan penetapan tata tulis-baca bahasa Arab periode akhir di Mesir. Bentuk huruf Arab yang kita kenal saat ini berpedoman pada ketetapan periode akhir tersebut. Beberapa ketetapan yang dicapai itu antara lain:
  • pembedaan bentuk rumah huruf FA dan QAF,
  • pembedaan bentuk rumah huruf BA, TA dan TSA dengan huruf NUN,
  • penetapan bentuk rumah huruf KAF, dan sebagainya.

Untuk memahami maksud penulis, berikut ini ditampilkan suatu ketentuan ANEH yang telah beredar di Riau selama ini:

Sebelumnya, mari kita baca gambar pakem di bawah ini:

Analisa Kaidah Arab Melayu 1

Pakem ini sama sekali tidak beralasan dan tidak menyeluruh. Kaf sudah baku bentuknya dan akan berubah bentuk bila menggunakan font (jenis huruf) yang berbeda pula. Pada bagan berikut ini terdapat 4 jenis huruf yang menampilkan 2 bentuk Kaf. Kufi adalah huruf lama pada periode awal Islam, dan tetap dipertahankan bentuknya. Sama seperti Farisi yang juga pada periode yang sama. Kemudian Naskhi dan Tsulutsi adalah hasil ketetapan pada periode akhir.

Analisa Kaidah Arab Melayu 2



2. Hamzah (ء)

Hamzah berbunyi tegas yang tidak bisa dikalahkan oleh bunyi huruf lainnya. Dia tidak elastis. Sebaiknya baca juga bahasan mengenai Reposisi Fungsi dan Kedudukan Hamzah, sebelum melihat perbandingan Kaidah Arab Melayu Aneh (KAMA) berikut ini:

a. Bunyi ai menurut KAMA adalah: Baik (بـائيـق)
  bandingkan dengan bahasa Arab Faidah (فائدة)

b. Bunyi au menurut EJYD adalah: Maupun (مائوڤون)
  bandingkan dengan bahasa Arab Maujud (موجود)

c. Bunyi ua menurut EJYD adalah: Luar (لوئر)
  bandingkan dengan bahasa Arab Muafiq (موافِق)

d. Bunyi ia menurut EJYD adalah: Siapa (سيئاڤ)
  bandingkan dengan bahasa Arab Qiamat (قِـيامة)


Intinya: huruf Hamzah berbunyi tegas dan jelas serta tidak bisa dikalahkan oleh bunyi huruf lainnya. Dia tidaklah elastis untuk membantu bunyi diftong. Mari kita lihat contoh kata-kata yang dikutip dari ayat al-Qur’an berikut ini:
Analisa Kaidah Arab Melayu 3

Berdasarkan contoh di atas, cobalah untuk membaca kalimat di bawah ini dengan seksama, sesuai dengan peran dan kedudukan huruf ini yang sesungguhnya.


ڤكنبارو كؤت برتوئه
Pekanbaru Kokta Bertu-ih

بوروڠ تيئوڠ تربڠ دڠن ريئڠ
Burung ti-iung terbang dengan ri-ing

ڤهلوان نسيئؤنل توئنكو تمبوسائي
pahluan nasi-iok-nal Tu-inku Tambusa-i

هڠ توئه منوجو لئوتن دالم
Hang Tu-ih menuju li-iutan dalam

ڤؤهؤن ڽيـئور مليئوق-ليئوق
Pok-ho-on Nyi-iur meli-iyuq-li-iyuq


Contoh kasus untuk analisa kaidah Arab Melayu di atas hanyalah secuil dari sekian banyak kejanggalan yang dibuat oleh 'Penetapan Kaidah' yang ada. Sudah saatnya bagi kita untuk segera menyepakati sebuah ketetapan kaidah tulis baca Arab Melayu yang baik dan benar; yang tidak bertentangan dengan al-Qur'an.

Dalam hal kaidah Arab Melayu ini, kita tidak perlu lagi membuat kaidah baru dan/atau malah memunculkan huruf-huruf baru, sebab dengan hanya merujuk pada Nahwu dan Sharf, insya Allah sistematika Arab Melayu akan selalu sama di seluruh dunia. Selain itu, tujuan utama pembelajaran aksara ini adalah untuk membuka kembali naskah-naskah lama yang nota bena banyak ditulis dengan aksara Arab Melayu.

Apabila tulisan ini bermanfaat, silahkan berbagi (share) kepada yang lain!

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Benar juga, aneh rasanya kalau hamzah digunakan untuk menulis seperti tuan jadi توئن...tidak sesuai dengan fungsi hamzah di bahasa aslinya...
    Kok bisa ya???
    Ada solusi?

    BalasHapus

Silahkan tulis kritik, saran dan komentar Anda